Ketika Kita Harus Bertawasul

Soal Bhakti seorang anak pada ibunya, pada saat ini, masih ada, ambil saja contoh Ding Zhu Ji, 62 thn, seorang mantan perwira Biro Investigasi Menteri Kehakiman berbasis di Taiwan. Sahabat Rasul Salman Al Farisi, serta yang dari negri sendiri, Naga Bonar. Jendral Naga Bonar ini, menggendong ibunya ketika mengungsi.

Salman Alfarisi melakukan ibadah haji bersama ibunya yang telah renta dengan cara menggendongnya, hingga punggung beliau lecet-lecet, itulah yang menghantarkan Salman mencapai kedudukan tertinggi. Bhakti Salman ini mengantarkan beliau pada kedudukan tertinggi diantara para sahabat Rasul.

Tawasul adalah perantara, atau koneksi, yang dengan koneksi itu, dapat menghantarkan kita ke posisi dekat pada Allah dan terkabul segala permohonan dan do’a kita. Pada cerita diatas, perantara yang mengantar Salman pada posisi tertinggi adalah amal karena berbakti pada orang tua. Amal yang dilakukan dengan ikhlas itu dapat dijadikan perantara untuk terkabulnya sebuah do’a. cerita yang sangat popular tentang orang yang bertawasul dengan perantaraan amalnya adalah ketika tiga orang terjebak dalam Goa, karena pintu Goa tertutup oleh batu besar. Lalu ketiga orang ini berdo’a agar Allah membukakan pintu Goa itu dengan bertawassul pada amal-amal yang telah mereka lakukan, lalu dengan izin Allah, maka batu besar yang menutupi pintu Goa itupun bergeser sehingga ketiga orang ini, dapat keluar dengan selamat.

Lalu bagaimana jika kita tidak memiliki amal yang dapat kita jadikan sebagai tawasul, karena kita akrab dengan perbuatan dosa?.

Apakah realita mereka yang mendatangi paranormal, dukun, orang pintar atau kiyai sekalipun, untuk dijadikan tawasul agar keinginan kita terkabul dibenarkan dalam agama? Jika jawabannya tidak dibenarkan, lalu solusinya apa? Karena kita diwajibkan untuk selalu berusaha agar do’a dan keinginan kita, terkabul dan terlaksana, sedangkan kita tidak memiliki amal yang dapat dijadikan tawasul?

Jawab dari pertanyaan diatas adalah bertawasul dengan Asma Allah itu sendiri, sesuai dengan hadis Nabi Muhammad SAW dijelaskan, Dari Anas, ia berkata, “Saya pernah duduk bersama Rasulullah SAW dalam suatu halaqah, sedangkan seorang laki-laki melaksanakan shalat, dan ketika rukuk dan sujud, kemudian dia duduk dan membaca tasyahud, lalu ia berdoa dengan membaca, ‘Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu, dengan perantara bahwa Engkaulah pemilik segala puji, tidak ada Tuhan selain Engkau, Engkau Maha Penyayang, pencipta langit dan bumi, ya Allah, Maha Gagah lagi Maha Mulia, ya Allah, Tuhan yang Mahahidup dan berdiri sendiri, ya Allah sesungguhnya aku memohon kepada-Mu.’ Maka, Rasulullah SAW bertanya kepada para sahabat, ‘Apakah kalian tahu dengan apa ia berdoa?’ Mereka menjawab, ‘Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.’ Rasulullah SAW bersabda, ‘Demi Zat yang jiwaku ada di tangan-Nya, sungguh ia telah berdoa kepada Allah dengan nama-Nya yang agung yang jika orang berdoa kepada-Nya dengan nama itu maka akan dikabulkan-Nya dan jika orang me minta kepada-Nya dengan nama itu maka akan diberikannya.’” (HR. Ahmad, Ibnu Hibban dan al-Hakim) ……… Wallahu A’lam Bish-shawab

 

 

 

Be Sociable, Share!
  • more Ketika Kita Harus Bertawasul